Monday, October 12, 2009

COMMUNICATION TECHNOLOGY SYSTEM


CABLE TELEVISION
       During the television licensing freeze of 1948–1952, the demand for television increased. Since new television licenses were not being issued, the only way the demand was met was by Community Antenna Television. Ed Parsons is known for building the first system in the U.S. that used coaxial cable, amplifiers, and a community antenna to deliver television signals to an area that otherwise would not have been able to receive broadcast television signals.In 1948 he rigged up a crafty community antenna and married it with long cables to bring television to his home in remote Astoria, Ore. Parsons simply wanted to let his wife watch the new Seattle TV station, which had gone on the air a few months earlier. At the time, no one could have imagined he was inventing a multibillion-dollar industry that would become a king of sneaky fees.
       In fact, Parson, his wife, and millions of other Americans, did not live close enough to broadcast stations to receive a signal. In the spring of 1948, Parsons learned that radio station KRSC in Seattle which 125 miles away was going to launch a television station that fall. He found that with a large antenna he could receive KRSC's signal on the roof of the Astoria Hotel and from there he ran coaxial cable across the street to his apartment.
When the station (now KING-TV) went on the air in November 1948, Parsons was the only one in town able to see television. Soon others in town wanted the same service, and Parsons helped them hook up to the system. He charged them a fee for his work and materials but never instituted a monthly service charge. In May 1968, Parsons was acknowledged as the father of community antenna television. According to MSNBC's Bob Sullivan, however, Parsons charged a $125 one-time set-up fee and a $3 a month service fee.
In 1950, Robert Tarlton developed the first commercial cable television system in the United States. Mr. Tarlton organized a group of fellow television set retailers in Lansford, Pennsylvania, to offer television signals from Philadelphia, Pennsylvania broadcast stations to homes in Lansford for a fee. The system was featured in stories in the New York Times, Newsweek and The Wall Street Journal. The publicity of this successful early system set off a wave of cable system construction throughout the United States.
       Tarlton used equipment manufactured by a new company, Jerrold Electronics. After seeing the success of the Tarlton system in 1950, Jerrold President Milton Shapp reorganized his company to build equipment for the now-growing cable industry. In 1952, Tarlton went to work for Jerrold, helping to construct most of the major systems built by that company in the 1950s, including the landmark system in Williamsport, Pennsylvania. Tarlton was also responsible for training many of the major operators of cable systems in the 1950s. In 2003, Mr. Tarlton was inducted in the Cable Television Hall of Fame for his work building the first widely publicized cable television company in America. 


Cable Today and Tomorrow

It should come as no surprise that the rise of cable led other innovators and entrepreneurs to get on the multichannel bandwagon. Leading the way were satellite, multichannel, multipoint distribution service (MMDS) and a huge consumer favorite: the VCR.
Reflecting on the developmets, we will see that the cable industry will continue to provide standard analog programming to its subscribers while offering a wide variety of digital and other video services.

INDONESIAN COMMUNICATION SYSTEM

Pada mata kuliah ini mahasiswa diajarkan bagaimana komunikasi di Indonesia sebenarnya dengan memberikan tugas membahas komunikasi budaya kita dapat mengetahui bagaimana budaya itu berkomunikasi dan apa saja tradisi dari budaya itu. Dalam tugas ini saya mengangkat budaya SUNDA sebagai topik utamanya.

Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah , murah senyum lemah lembut dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua. Bahasa Sunda dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa.


Kebudayaan sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia. Hamper semua orang sunda menganut agama islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama islam, contohnya orang baduy yang berada di banten. Kirap helaran merupakan suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak –arakan dalam bentuk helaran. Suku    sunda dikenal memiliki aneka budaya kesenian. Tari jaipong merupakan salah satu tarian tradisinal dari suku sunda. Tari jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah modern karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tradisional khas sunda yaitu Ketuk Tilu. Tari jaipong ini dibawakan dengan iringan music khas sunda juga yaitu degung. Selain seni tari suku sunda terkenal dengan seni suaranya. Penyanyi yang membawakan lagu disebut sinden. Tidak semua sinden bisa membawakan lagu khas sunda. Contoh lagu daerah sunda, bubu bulan, es lilin, tokecang dan warung pojok. 




                                                       tari jaipong dari sunda


baju adat sunda

SELLING AND MANAGEMENT

SALES
  • Mengapa sales memiliki pengertian negative?   
Sales dalam bahasa Indonesia berarti penjualan memiliki pengertian sebagai kegiatan yang yang berhubungan dengan penjualan barang atau jasa dengan tujuan untuk menghasilkan uang atau jenis kompensasi lainnya. Seringkali kata “Sales” diartikan negatif oleh masyarakat Indonesia pada umunya. Hal ini berkaitan dengan kenyataan di Indonesia bahwa umunya pekerjaan sales yang diketahui khalayak di Indonesia adalah pekerjaan remeh. Hal ini berkaitan dengan maraknya Sales Door to Door, atau sales lainnya yang dalam mind-set masyarakat Indonesia berarti demikian. Padahal kenyataannya pekerjaan sales tidak hanya sekedar menawarkan barang, hal itu hanyalah sedikit dari pekerjaan sales yang diketahui khalayak. Sales sendiri memiliki rangkaian pekerjaan yang tidak sesederhana itu, yakni menjadi kreatif dan harus menguasai teknik penjualan, bukan hanya barang yang ditawarkan, melainkan juga ide yang harus dimiliki kepada bawahan, rekan, atasan atupun management. Seseorang yang bekerja di bidang sales juga harus mampu melakukan maintenance kepada customernya. Memenuhi kebutuhan mereka akan produk yang dijual, pun ketika produk tersebut bermasalah, sehingga customer merasa puas, tidak kecewa dan akan setia pada produk tersebut. Di perusahaaan maju, sales memiliki departemen tersendiri, bahkan banyak universitas di luar negeri yang memiliki jurusan / major Sales, yang tentunya diminati oleh banyak mahasiswa, karena karir di bidang sales sendiri terbukti cerah. Maka seringkali sales dipandang negatif, ketika masyarakat hanya melihat pekerjaan sales dari satu sudut pandang. Melihat pekerjaan sales dari satu sisi, yakni menjajakan barang kepada pelanggan, tanpa mempertimbangkan keseluruhan isinya, sehingga pemahaman mereka akan sales pun menjadi tidak maksimal.


      • Apa manfaat belajar sales atau penjualan bagi setiap orang? 

      Sales (penjualan) sangat penting untuk  dipelajari, dengan mempelajari dan mendalami apa itu sales, seseorang dapat memahami  bagaimana tekhnik yang tepat untuk melakukan suatu kegiatan penjualan dalam kehidupan sehari – hari. Kegiatan penjualan adalah kegiatan yang sering sekali kita temui,  dan akan selalu terjadi di dalam kehidupan kita . Dengan memahami seluk beluk penjualan seseorang dapat mengetahui bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan pasar yang sedang terjadi seiring dengan perkembangan jaman,  memberikan keyakinan bahwa apa yang kita jual bermanfaat bagi pasar, dan juga dapat memahami ciri khas dari pasar yang akan ditembus oleh kegiatan penjualan, setelah itu seseorang dapat melakukan evaluasi tehadap hasil kerjanya dalam penjualan (yang biasanya dilakukan dalam format sebuah tim yang bertanggung jawab akan semua kegiatan penjualan). Tidak hanya dalam bisnis, mempelajari sales juga dapat berguna bagi siapa saja,karena seiring dengan modernisasi, setiap orang memiliki keinginan untuk menaikkan taraf hidupnya, dengan memahami sales dan tekhnik – tekhniknya, setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih bidang apa yang akan ditembus untuk mengaplikasikan strategi – strategi penjualannya.



      SOSIOLOGI - PENCAPAIAN

      Hal yang ingin dicapai dalam
      5 tahun ke depan:
      • Sudah lulus s1 dengan nilai yang baik
      • Mempunyai pekerjaan
      • Melanjutkan kuliah s2
      • Membahagiakan orang tua (membiayai umroh atau naik haji)
      • Menikah
      10 tahun ke depan:
      • Mempunyai 2 anak, sepasang (laki, perempuan)
      • Pekerjaan yang mapan
      • Mempunyai rumah sendiri
      • Mempunyai mobil atas nama sendiri
      • Hidup bahagia, tentram dan damai bersama suami dan anak
      15 tahun ke depan:
      • Memenuhi pendidikan anak
      • Mempunyai usaha sendiri (usaha kuliner/makanan)
      • Mempunyai rumah lebih dari satu
      • Berlibur ke tempat idaman keluarga
      • Membimbing anak dalam hal bergama
      20 tahun ke depan:
      • Usaha kuliner sudah ada cabang kota tertentu (bogor, bandung)
      • Umroh bersama suami
      • Mengerti akan pergaulan anak. Menjadikan anak sebagai teman, agar anak selalu bercerita. Dengan begitu dapat lebih mudah mengontrol.
      • Mempunyai usaha lain selain kuliner contoh: boutique
      • Menjalani semua yang sudah diberikan dengan ikhlas dan memafaatkannya dengan sebaik mungkin. Meningkatkan usaha yang dikelola.
      25 tahun ke depan:
      Ingin lebih banyak waktu dengan keluarga. Membahagiakan dan menyenangkan suami dan anak – anak. Tidak mau menyita waktu dengan hal – hal yang tidak penting. Tetap konsentrasi dengan pekerjaan dan usaha – usaha yang dijalankan. Mempunyai planning buat anak – anak dan memberikan mereka bekal untuk kedepannya. Naik haji bersama suami dan anak – anak merupakan sesuatu yang harus dicapai.

      The Effect of Global Economics Crisis Towards the Indonesian Economy


      Tahun 2008 bisa dikatakan sebagai periode yang suram dunia. Betapa tidak, krisis keuangan di AS yang dipicu oleh krisis subprime mortgage (terjadi akibat macetnya kredit property). Celakanya, karena hubungan patronase yang sedemikian lekat antara pasar keuangan AS dan dunia, imbas negatif juga terjadi di negara-negara lain. Salah satu channel penularan adalah melalui harga saham dan pertanian. Kerugian bank-bank internasional akibat krisis subprime mortgage pada awalnya menimbulkan penurunan kurs Dollar AS terhadap mata uang Euro dan Yen. Jatuhnya valuasi saham di AS selanjutnya memicu penurunan harga saham di seluruh dunia karena investor khawatir pelemahan ekonomi AS akan berdampak pada pelambatan ekonomi dunia.
      Spektrum dan dimensi krisis ekonomi pun telah secara agresif bergerak ke berbagai penjuru dan bidang-bidang kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan militer masyarakat dunia. Krisis telah mengunci miliaran rakyat miskin di dunia dalam kesengsaraan, kekerasan dan perang, wabah penyakit dan keterbelakangan budaya. Gejolak politik akibat kenaikan harga telah terjadi di berbagai kawasan dunia.. Gelombang protes massa pun membayangi kawasan-kawasan dunia lainnya. Di Zimbabwe, krisis harga yang bertemu dengan momentum krisis politik dalam pemilu setempat telah memicu aksi-aksi kekerasan terhadap oposisi. Sementara di Indonesia, kegelisahan yang tak berkesudahan akibat kenaikan harga pangan sudah mulai diaktualisasikan dalam aksi – aksi politik yang dilakukan oleh para mahasiswa, buruh dan kaum tani.
      DAMPAK KRISIS GLOBAL
      Dampak krisis keuangan AS menjalar ke Eropa dan Asia Pasifik dalam bentuk bangkrutnya bank/institusi keuangan/korporasi, meningkatnya inflasi, menurunnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pengangguran, dan runtuhnya indeks bursa saham. Di Indonesia, krisis keuangan global terbukti memporakporandakan pasar modal dan valas. IHSG anjlok dari angka 2.830 menjadi 1.111, atau turun lebih dari 60%. Nilai kurs rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi cukup dramatis dari Rp 9.076 hingga sempat hampir menembus Rp 13.000. Krisis global berpengaruh besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Secara singkat, krisis global mempengaruhi penanaman modal asing di Indonesia. Banyak investor asing yangg mempermasalahkan krisis global dan mempertimbangkannya masak-masak sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi atau membeli saham di Indonesia.  Dampak ke dua adalah dalm forex / pertukaran mata uang asing, yang secara otomatis berpengaruh pada impor / expor negara Indonesia. Dampak krisis finansial global mulai merembes ke sektor riil di Tanah Air. Sejumlah sektor industri, di antaranya menjadi tumpuan ekspor, mulai merasakan kemerosotan kinerja akibat terpuruknya permintaan, dan bersiap-siap menyambut datangnya PHK besar-besaran. Misalnya industri baja nasional kian terpuruk. Harga baja di pasar internasional dalam tiga bulan belakangan ini merosot hingga 36,5%, dari sebelumnya US$ 1.150 menjadi US$ 730 per ton. Belum lagi, persoalan lain yang harus dihadapi industri baja dalam negeri, seperti melemahnya daya beli masyarakat.
      DAMPAK KRISIS GLOBAL TERHADAP SEKTOR PERTANIAN INDONESIA
      Berbagai media lokal maupun internasional secara terus menerus melaporkan dampak krisis dan kelangkaan pangan di dunia yang indikasinya telah terlihat sejak awal tahun ini. Sampai dengan akhir Maret 2008, sebagaimana dilaporkan FAO, telah terjadi krisis pangan yang sangat serius di 36 negara dan 21 negara diataranya merupakan negara di benua Afrika yang merasakan dampak paling serius bahkan menyebabkan terjadinya kelaparan kronis dan beberapa kasus kematian.   Dalam Perkembangan Krisis Global saat ini tidak ada satupun Industri yang ada di Indonesia cukup kuat pondasinya untuk mempertahankan kelangsungan produksinya, tanpa terkecuali industri pupuk dalam negeri. Karena Semua Industri Indonesia khususnya yang berbasiskan bahan baku kimia itu di dapatkan dari import, artinya kandungan lokalnya (Bahan Baku Lokal) tidak lebih dari 20%-30% yang dihasilkan oleh Indonesia untuk suplai industri dalam negeri. Di Sisi yang lain, transaksi dalam Perdangangan Internasional alat tukarnya masih mengunakan Dollar AS. Terhadap kenaikan harga global, harga pangan di Indonesia cenderung lebih stabil kecuali untuk minyak goreng dan kedelai. Bila Indonesia impor, maka ancaman di depan mata adalah kenaikan harga beras akibat kenaikan harga global 133% dalam periode januari-mei 2008 (FAO: Food Outlook, Mei 2008). Akibat atas krisis dan kelangkaan pangan dunia juga semakin diperparah dengan tindakan beberapa negara produsen pangan utamanya padi yang membatasi bahkan menghentikan permintaan impor dari negara lain.